Bukan Sekadar Event, Ardiwinata Bangun Ekosistem Pariwisata Batam
Kompassidik.com – Batam Langkah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam dalam memperkuat sektor pariwisata mulai diarahkan pada strategi yang lebih agresif. Di bawah kepemimpinan Drs. Ardiwinata, sektor pariwisata tidak hanya didorong melalui promosi destinasi, tetapi juga lewat event internasional, sport tourism, penguatan budaya serta perlindungan terhadap pelaku ekonomi kreatif.
Strategi tersebut menjadi penting di tengah target besar Batam untuk mendatangkan 1,7 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada 2026.
Ardiwinata dan jajaran Disbudpar Batam mendorong berbagai agenda yang dinilai memiliki daya ungkit terhadap kunjungan wisatawan sekaligus memberikan ruang lebih besar bagi pelaku usaha, seniman dan komunitas kreatif.
Salah satu agenda strategis adalah 24th Indonesia Tourism & Trade Investment Expo (ITTIE) yang berlangsung pada 27–30 Agustus 2026 di Mega Mall Batam Centre. Pameran tersebut tidak hanya membawa misi pariwisata, tetapi juga mempertemukan sektor perdagangan dan investasi.
Langkah berikutnya datang melalui Batam 10K & 5K 2026 yang dijadwalkan pada 20 September 2026. Ajang sport tourism tersebut semakin memperkuat posisi Batam sebagai destinasi event karena telah menarik peserta mancanegara dari Kenya, Singapura dan India.
Bagi Disbudpar, event internasional bukan sekadar kegiatan seremonial. Kehadiran wisatawan dalam berbagai kegiatan diharapkan memberikan efek berantai terhadap hotel, restoran, transportasi, UMKM, pusat hiburan hingga sektor ekonomi kreatif.
Budaya Melayu Tetap Jadi Identitas
Di tengah gencarnya agenda pariwisata modern, Ardiwinata juga mempertahankan kekuatan budaya sebagai identitas Batam.
Kenduri Seni Melayu (KSM) tetap menjadi salah satu agenda budaya unggulan. Event tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan seni dan tradisi Melayu sekaligus memberikan pengalaman budaya kepada wisatawan yang datang ke Batam.
Sementara itu, Batam International Marching Band Competition menjadi bagian lain dari strategi mendatangkan wisatawan melalui event berskala internasional.
Pola tersebut menunjukkan arah kebijakan Disbudpar yang mulai menggabungkan pariwisata, event, budaya dan ekonomi kreatif dalam satu ekosistem.
Tak Sekadar Mendatangkan Wisman, Karya Lokal Juga Dilindungi
Penguatan sektor pariwisata juga dibarengi perhatian terhadap pelaku ekonomi kreatif.
Melalui kolaborasi dengan Kanwil Kemenkumham Kepri, Disbudpar memperpanjang layanan Mobile Intellectual Property Clinic (MIC) hingga akhir Agustus 2026.
Program tersebut memberikan kemudahan bagi pelaku seni dan musisi lokal untuk memperoleh pendampingan serta memfasilitasi pendaftaran kekayaan intelektual, termasuk hak cipta karya musik.
Langkah ini menjadi penting karena pertumbuhan ekonomi kreatif tanpa perlindungan terhadap karya berpotensi membuat pelaku lokal kehilangan manfaat ekonomi dari kreativitas mereka sendiri.
Taman Budaya Diproyeksikan Jadi Rumah Para Seniman
Gebrakan lain yang tengah dipersiapkan adalah rencana pembangunan Taman Budaya Batam.
Pemerintah Kota Batam sedang mematangkan perencanaan fisik dan regulasi untuk menghadirkan ruang yang dapat menjadi pusat aktivitas seniman, komunitas budaya serta berbagai paguyuban daerah.
Jika terealisasi, Taman Budaya Batam dapat menjadi infrastruktur kebudayaan yang selama ini dibutuhkan untuk memberikan ruang ekspresi, kolaborasi dan pengembangan kreativitas masyarakat.
Ardiwinata Dihadapkan pada Pembuktian
Berbagai program tersebut menjadi modal penting bagi Disbudpar Batam dalam mengejar target 1,7 juta wisman. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan setiap event dan program benar-benar menghasilkan dampak ekonomi yang terukur bagi masyarakat.
Kepemimpinan Ardiwinata kini tidak hanya dinilai dari banyaknya agenda yang digelar, tetapi juga dari kemampuan mengubah event menjadi kunjungan wisatawan, lama tinggal, perputaran ekonomi dan peningkatan pendapatan pelaku usaha lokal.
Dengan kombinasi event internasional, sport tourism, budaya Melayu, perlindungan kekayaan intelektual dan rencana pembangunan Taman Budaya, Disbudpar Batam tengah membangun pendekatan baru: wisatawan didatangkan, budaya diperkuat, sementara pelaku ekonomi kreatif diberi ruang untuk tumbuh.
Jika strategi tersebut konsisten dan eksekusinya kuat, Ardiwinata berpeluang meninggalkan capaian yang bukan hanya tercatat dalam kalender kegiatan, tetapi juga terasa langsung di denyut ekonomi pariwisata Batam.
Batam tidak cukup hanya ramai dikunjungi. Tantangannya kini adalah membuat setiap kunjungan menghasilkan nilai ekonomi dan meninggalkan pengalaman yang membuat wisatawan ingin kembali.












