Breaking News
light_mode
Beranda » Uncategorized » India, Tariff King? Menelisik Angka dan Narasi di Baliknya

India, Tariff King? Menelisik Angka dan Narasi di Baliknya

  • account_circle Admin
  • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
  • visibility 2
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

India kerap dituduh sebagai “tariff king”—sebuah label yang seolah menggambarkan bahwa negeri ini menutup diri dengan beban bea masuk yang tinggi. Namun, benarkah demikian? Narasi ini seringkali berlebihan, jika bukan keliru sama sekali. Alih-alih bersandar pada persepsi, mari menimbang fakta, angka, serta konteks ekonomi yang melingkupinya.

Apa Fungsi Tarif di Negara Berkembang?

Di negara berpendapatan rendah dan berkembang, tarif bukan sekadar instrumen perdagangan. Ia berfungsi ganda:

Melindungi industri domestik – terutama sektor yang masih “infant industry” atau rapuh, sehingga membutuhkan waktu untuk tumbuh sebelum mampu bersaing di pasar global.

Meningkatkan penerimaan negara – misalnya melalui tarif pada produk-produk premium seperti alkohol atau kendaraan mewah.

Dua fungsi ini berbeda jauh dari praktik negara maju seperti Amerika Serikat, yang sudah memiliki basis industri mapan dan lebih mengandalkan pajak domestik ketimbang bea impor.

Dari Proteksionisme ke Liberalisasi Bertahap

Memang benar, tarif India pada era 1980-an tergolong tinggi. Namun, sejak reformasi 1991 dan kesepakatan Uruguay Round yang melahirkan WTO, India secara konsisten memangkas tarifnya. Tren jangka panjangnya jelas: penurunan bertahap.

Penting untuk membedakan dua jenis tarif:

Applied tariffs: tarif nyata yang diberlakukan saat barang masuk.

Bound tariffs: plafon tarif maksimum yang dijanjikan dalam komitmen WTO.

Kritik terhadap tarif India kerap abai pada perbedaan ini, padahal yang relevan bagi perdagangan nyata adalah applied tariff.

Angka yang Sering Di Salah Pahami

Jika hanya melihat simple average tariff India, yaitu 15,98 persen, sekilas memang terlihat tinggi. Tetapi ukuran ini menyesatkan karena memperlakukan semua produk sama, tanpa memperhitungkan volume perdagangan.

Ukuran yang lebih akurat adalah trade-weighted tariff, yang mencerminkan bobot riil perdagangan. Dengan metode ini, tarif India hanya 4,6 persen—setara bahkan lebih rendah dibanding banyak negara berkembang lain. Angka ini sendirian cukup untuk membantah label “tariff king.”

Kenapa Tarif di Sektor Pertanian dan Otomotif Tinggi?

Ada dua pengecualian utama, yaitu pertanian dan otomotif.

Pertanian: Lebih dari 50 persen penduduk India bergantung pada sektor ini. Dengan lahan sempit, teknologi minim, dan orientasi subsistensi, membuka keran impor secara bebas sama saja dengan menyingkirkan jutaan petani kecil. Tidak ada pemerintahan demokratis yang mau mengambil risiko politik itu. Terlebih, petani Barat menikmati subsidi besar-besaran—membuat kompetisi tidak adil sejak awal.

Otomotif: Industri ini menyerap jutaan tenaga kerja dan menjadi salah satu tulang punggung manufaktur. Proteksi di sini lebih terkait stabilitas ekonomi dan sosial, bukan sekadar kalkulasi dagang.

Perlu dicatat, negara lain pun melakukan hal serupa, bahkan lebih agresif. Uni Eropa mengenakan tarif hingga 205 persen pada produk susu dan 261 persen pada buah dan sayuran. Jepang mencapai 298 persen pada susu dan lebih dari 250 persen pada sereal dan daging. Korea Selatan bahkan melampaui 800 persen pada sayuran. Dibanding angka-angka itu, tarif India terlihat moderat.

Perbandingan dengan Negara Berkembang Lain

Jika dirunut, tarif India tidak berbeda jauh dengan rekan-rekannya di dunia berkembang. Bangladesh rata-rata 14,1 persen, Argentina 13,4 persen, dan Türkiye 16,2 persen. Dengan kata lain, India tidak menyimpang dari norma global.

Bagaimana dengan Barang Non-Pertanian?

Kritik dari Amerika Serikat sering menyasar produk non-pertanian. Tetapi, di sektor teknologi dan elektronik, tarif India justru ramah:

• 0 persen untuk sebagian besar perangkat keras IT, semikonduktor, dan komputer.

• zRata-rata hanya 10,9 persen pada elektronik, serta 8,3 persen pada mesin komputasi.

Bandingkan dengan Vietnam yang mengenakan tarif hingga 35 persen, Tiongkok hingga 25 persen, atau Indonesia hingga 30 persen di sektor serupa. Jelas, India bukan pengecualian.

Jadi, Siapa Tariff King Sebenarnya?

Label “tariff king” pada India lebih merupakan retorika politik ketimbang cerminan realitas. Ya, India melindungi sektor pertanian dan otomotifnya—tapi alasan sosial, ekonomi, dan politik di baliknya kuat dan sebanding dengan praktik di negara lain.

Untuk mayoritas sektor lain, tarif India justru rendah, sejalan dengan standar global, bahkan lebih liberal dibanding beberapa tetangganya di Asia.

Dengan demikian, menyebut India sebagai “tariff king” adalah simplifikasi berlebihan yang gagal melihat data, konteks, dan perbandingan internasional. Pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apakah India tariff king, melainkan: siapa sebenarnya yang lebih proteksionis?

\ Get the latest news /

  • Penulis: Admin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kapolres Tanggamus Gelar Silaturahmi dengan Bupati Tanggamus

    Kapolres Tanggamus Gelar Silaturahmi dengan Bupati Tanggamus

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Sindy
    • visibility 0
    • 0Komentar

    TANGGAMUS | KOMPAS SIDIK– Kepala Kepolisian Resor Tanggamus AKBP Rahmad Sujatmiko, S.I.K., M.H., beserta Pejabat Utama (PJU) Polres Tanggamus mengadakan audiensi dan silaturahmi dengan Bupati Tanggamus Drs. H. Moh. Saleh Asnawi, M.A., M.H., di Pendopo Utama Kabupaten, Jumat 25 April 2025 siang. Pertemuan ini menjadi momentum penguatan koordinasi antara Polri dan Pemerintah Kabupaten dalam menjaga […]

  • MLV Teknologi Hadirkan Solusi Background Music Canggih untuk Proyek Kondominium Mewah di Dharmawangsa, Jakarta Selatan

    MLV Teknologi Hadirkan Solusi Background Music Canggih untuk Proyek Kondominium Mewah di Dharmawangsa, Jakarta Selatan

    • calendar_month Sabtu, 8 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 0
    • 0Komentar

    MLV Teknologi, penyedia solusi terdepan dalam Audio Visual, sedang berkontribusi pada proyek kondominium mewah di Dharmawangsa, Jakarta Selatan, dengan merancang sistem Background Music menggunakan perangkat dari Bose Professional dan Powersoft. Tim engineering MLV Teknologi telah menciptakan sistem audio yang canggih, mampu memberikan pengalaman suara berkualitas tinggi untuk penghuni dan pengunjung. Sistem Bose Professional dan amplifikasi […]

  • Sidang Kabinet Paripurna, Presiden Prabowo Pastikan Mudik Aman dan Pangan Stabil Jelang Idulfitri

    Sidang Kabinet Paripurna, Presiden Prabowo Pastikan Mudik Aman dan Pangan Stabil Jelang Idulfitri

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Husaeri
    • visibility 0
    • 0Komentar

    Kompassidik.com – Jakarta – Presiden Prabowo Subianto memberikan sejumlah arahan kepada para menteri dan pimpinan lembaga agar seluruh aspek pelayanan publik selama periode mudik dan libur Idulfitri dapat berjalan dengan baik, saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/03/2026). Presiden Prabowo meminta Kementerian Perhubungan memastikan kebijakan diskon transportasi baik diskon tiket pesawat, […]

  • Pemkab OKI Hadirkan dr Aisah Dahlan, Edukasi Ribuan Jemaah Bangun Keluarga Samawa

    Pemkab OKI Hadirkan dr Aisah Dahlan, Edukasi Ribuan Jemaah Bangun Keluarga Samawa

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2025
    • account_circle Kabiro Kabupaten Oki
    • visibility 1
    • 0Komentar

    OKI SUMSEL -KOMPASSIDIK.COM- Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menghadirkan dr Aisah Dahlan, CMHt., CM.NLP dalam kegiatan Muhasabah Akhir Tahun dan Peringatan Hari Ibu yang digelar di GOR Perahu Kajang, Selasa (16/12). Kegiatan tersebut diikuti ribuan jemaah yang didominasi ibu-ibu majelis taklim se-Kabupaten OKI serta peserta dari daerah sekitar, seperti Ogan Ilir, OKU Timur, dan […]

  • KAI Sumut Layani 203.391 Penumpang Pada Agustus 2025, Tumbuh 6 Persen Dibanding Tahun Lalu

    KAI Sumut Layani 203.391 Penumpang Pada Agustus 2025, Tumbuh 6 Persen Dibanding Tahun Lalu

    • calendar_month Sabtu, 13 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 0
    • 0Komentar

    PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara mencatat telah melayani sebanyak 203.391 penumpang sepanjang Agustus 2025. Jumlah ini mengalami peningkatan 6 persen dibanding periode yang sama tahun 2024, yakni sebanyak 191.220 penumpang. PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara mencatat telah melayani sebanyak 203.391 penumpang sepanjang Agustus 2025. Jumlah […]

  • Kunjungan Kapal Pesiar Meningkat, Pelindo Multi Terminal Dorong Pariwisata dan Ekonomi Daerah

    Kunjungan Kapal Pesiar Meningkat, Pelindo Multi Terminal Dorong Pariwisata dan Ekonomi Daerah

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • visibility 0
    • 0Komentar

    PT Pelindo Multi Terminal (SMPT), Subholding PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang bergerak di bidang operasional terminal nonpetikemas, mencatat tren pertumbuhan positif kunjungan kapal pesiar di tiga branch/cabang pelabuhan yang dikelolanya sepanjang tahun 2025. Sepanjang 2025, Pelindo Multi Terminal melayani 49 kunjungan kapal pesiar di Pelabuhan Tanjung Emas (Semarang), Lembar (Lombok Barat), dan Parepare (Sulawesi Selatan). […]

expand_less PAGE TOP