Pelabuhan Tikus dan Wartawan Bayangan: Siapa Oknum A Sebenarnya ?”
- account_circle Jurnalis Tpi, Bintan, Batam
- calendar_month Kamis, 10 Apr 2025
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
www.Kompassidik.Online|Tanjungpinang, Kamis, 10/04/2025] – Seorang pria berinisial “A” mengaku sebagai wartawan, namun keterlibatannya dalam aktivitas mencurigakan di kawasan pelabuhan tidak resmi—yang dikenal sebagai pelabuhan tikus—membuka tabir skandal baru yang menghebohkan publik.
Informasi yang dihimpun tim investigasi Tim Media menyebutkan, “A” kerap terlihat keluar masuk area pelabuhan tikus jalan salam, di saat detik-detik kapal merapat.
Ia memanfaatkan identitas kewartawanannya untuk mengakses wilayah-wilayah yang tertutup bagi masyarakat umum, diduga kuat sebagai tameng untuk aktivitas ilegal di pelabuhan tikus di jalan salam Tanjung pinang.
Seorang sumber internal yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa “A” ngakunya wartawan dari media mana ? ?
“Kami curiga ia hanya menggunakan atribut pers untuk melindungi bisnis gelapnya,” ujar sumber tersebut.
Jejak Transaksi Gelap
Kegiatan mencurigakan ini bukan tanpa bukti. Tim kami menemukan dugaan adanya aliran barang ilegal seperti diduga rokok tanpa cukai dan barang elektronik dari luar negeri yang masuk melalui pelabuhan tikus tersebut.
Dalam beberapa dokumentasi, terlihat “A” tengah berbicara dengan beberapa oknum lain yang diduga kuat bagian dari sindikat penyelundupan.
Reaksi Aparat
Pihak kepolisian yang dihubungi Awak Media Online Investigasi menyatakan akan menyelidiki lebih lanjut kasus ini.
“Kami tidak segan menindak siapa pun yang menyalahgunakan identitas profesi, apalagi bila terlibat dalam kejahatan lintas batas,” ujar seorang pejabat kepolisian yang menangani wilayah tersebut.
Desakan Verifikasi Media
Kasus ini kembali menguatkan pentingnya verifikasi identitas wartawan dan media.
Dewan Pers didesak turun tangan dan melakukan pendataan ulang terhadap pihak-pihak yang mengklaim sebagai jurnalis.
“Identitas PERS bukan untuk dijadikan perisai pelindung kejahatan,” tegas Ketua LSM Pemantau Jurnalisme Independen, Irwan Saputra.
Penutup
Skandal ini membuka mata bahwa praktik pelabuhan tikus masih hidup dan berkembang, bahkan kini disamarkan melalui bayang-bayang profesi yang seharusnya menjunjung integritas dan kebenaran.
Publik menanti langkah tegas dari aparat dan pemangku kebijakan, sebelum pelabuhan-pelabuhan gelap ini menjadi pintu masuk ancaman yang lebih besar bagi negara.
Bersambung….
- Penulis: Jurnalis Tpi, Bintan, Batam

Saat ini belum ada komentar