Tim PISN FSD UNM Luncurkan Batik Cap Lontara Berbahan Karton Bekas Sebagai Solusi Ramah Lingkungan
- account_circle Suardi
- calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ketua Tim Hasnawati, S.Pd., M.Pd., bersama anggota Aulia Evawani Nurdin, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Irfan, S.Pd., M.Ds.,
KOMPASSIDIK.COM,MAKASSAR – Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Universitas Negeri Makassar (UNM) meluncurkan inovasi batik cap bermotif Lontara berbahan karton bekas di Rumah Batik Balla Sari Makassar.
Inovasi ini tidak hanya menawarkan teknik produksi yang lebih cepat dan efisien, tetapi juga mendorong praktik ramah lingkungan melalui pemanfaatan material daur ulang.
Program ini diketuai oleh Hasnawati, S.Pd., M.Pd., dengan anggota Aulia Evawani Nurdin, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Irfan, S.Pd., M.Ds., yang seluruhnya merupakan dosen FSD UNM. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya kampus dalam memperkuat peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya perajin batik lokal.
Selama ini, produksi batik di Rumah Balla Sari masih terbatas pada teknik batik tulis yang memerlukan waktu 3–5 hari per lembar. Melalui inovasi cap berbahan karton, perajin kini mampu memproduksi batik dalam waktu satu hari per lembar, sehingga jumlah produksi dapat meningkat secara signifikan.
ibu ibu sedang membantik Lontara
Menurut pimpinan Rumah Batik Balla Sari, Andi Aisyah Jeanny, penggunaan canting cap berbahan karton bekas sangat membantu perajin meningkatkan produktivitas tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli cap tembaga. “Kami sangat terbantu dengan inovasi ini. Karton bekas mudah didapat, murah, dan hasil capnya bagus untuk motif Lontara,” ujarnya.
Sementara itu, PKM–PISN ini dan Tim FSD UNM memberikan pelatihan pembuatan canting cap berbahan karton bekas, pelatihan pencapan pada kain, hingga pendampingan produksi batik cap Lontara. Peserta pelatihan, yang terdiri dari perajin Balla Sari, Ibu-ibu PKK, serta masyarakat Kelurahan Pisang Selatan, antusias mengikuti setiap sesi.
Dosen FSD UNM mengajarkan membantik bagi Ibu-ibu
Pemanfaatan karton bekas sebagai media cap tidak hanya menjadi inovasi ekonomis, tetapi juga solusi lingkungan. Karton bekas yang selama ini menjadi limbah kini diolah menjadi alat produksi bernilai guna tinggi.
Hasnawati menambahkan, Pendekatan ini merupakan sejalan dengan prinsip eco-technology dan mendukung gerakan pengurangan limbah berbasis masyarakat.
“Teknologi tepat guna seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat. Murah, mudah, dan bisa langsung diaplikasikan. Perajin bisa memproduksi lebih banyak tanpa membebani biaya produksi,” kata Hasnawati, ketua tim pelaksana.
Batik Lontara dengan Karton Bekas
Iya berharap ke depan, tim akan terus memantau keberkelanjutan penerapan teknologi ini dan mendorong mitra untuk memperluas produksi serta pemasaran melalui platform digital.
Semoga dengan adanya inovasi ini, Rumah Batik Balla Sari diharapkan dapat menjadi model pengembangan batik ramah lingkungan berbasis budaya lokal di Sulawesi Selatan, tutup, Hasnawati
(Suardi)
- Penulis: Suardi

Saat ini belum ada komentar