8 Wasiat Karuhun King Badak, Pesan Leluhur Banten tentang Jati Diri, Kepemimpinan, dan Kemanusiaan

Kompassidik.com – LEBAK – Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggerus nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, kembali menggema pesan-pesan luhur yang dikenal sebagai “8 Wasiat Karuhun King Badak”. Wasiat ini berisi petuah kehidupan yang sarat makna, mengajarkan pentingnya menjaga jati diri, keberanian, persaudaraan, kepemimpinan, kelestarian alam, hingga keteguhan dalam menjalankan ajaran agama.

Dalam wasiat pertama, masyarakat diingatkan agar tidak melupakan asal-usul dan jasa para leluhur. Nilai tersebut menegaskan bahwa setiap manusia harus memiliki adab terhadap tanah kelahirannya serta menghormati sejarah yang telah membentuk kehidupannya.

Selanjutnya, wasiat tentang kesatrian mengajarkan bahwa seorang laki-laki Banten harus memiliki tiga bekal utama, yakni keberanian, kecerdasan, dan amal perbuatan. Ketiganya menjadi fondasi kehormatan dan martabat seseorang.

Karuhun juga menitipkan pesan agar masyarakat terus memupuk persaudaraan melalui semangat silih asah, silih asih, silih asuh, yaitu saling mengasah ilmu, saling mengasihi, dan saling membimbing. Persatuan dinilai jauh lebih berharga daripada permusuhan dan kebencian.

Tidak hanya berbicara mengenai hubungan antarmanusia, wasiat tersebut juga menegaskan pentingnya menjaga alam. Gunung, hutan, dan lautan dipandang sebagai titipan yang wajib diwariskan kepada anak cucu dalam keadaan tetap lestari.

Dalam hal kepemimpinan, Karuhun King Badak mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus menjadi teladan, memiliki perilaku yang baik, tidak menipu rakyat, dan tidak mengkhianati amanah yang telah dipercayakan kepadanya.

Nilai religius turut menjadi bagian penting dalam wasiat tersebut. Karuhun menegaskan bahwa adat harus berjalan selaras dengan syariat, dan apabila sebuah adat bertentangan dengan ajaran agama, maka yang harus diutamakan adalah tuntunan Kitabullah.

Sementara itu, pada wasiat ketujuh dijelaskan tiga larangan yang diyakini menjadi penyebab hancurnya kehidupan, yakni iri hati kepada sesama, kesombongan yang merasa diri paling hebat, serta sikap menindas orang yang lemah.

Sebagai penutup, Wasiat Pamungkas Karuhun King Badak mengajarkan filosofi hidup yang kuat namun penuh kasih. Seseorang diharapkan memiliki keteguhan seperti badak, berkulit tebal menghadapi cacian, bertanduk tajam dalam membela kebenaran, tetapi tetap berhati lembut kepada sesama manusia.

Rangkaian petuah tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan zaman tidak seharusnya menghilangkan jati diri dan nilai-nilai luhur warisan leluhur. Sebaliknya, pesan-pesan itu diharapkan menjadi pedoman moral bagi generasi muda agar tetap berakhlak, berani membela kebenaran, mencintai alam, serta menjaga persatuan dalam kehidupan bermasyarakat.

Di akhir penyampaiannya, pesan yang menggaung sebagai pengingat berbunyi:

“Sang Fajar Kliwon Wangsit Leluhur Sancang Mengaum.”

Sebuah seruan simbolis yang mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan nilai-nilai kebajikan warisan karuhun sebagai bekal membangun masa depan yang bermartabat.

\ Get the latest news /

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Back to top