GORDON SILALAHI DAN HOTEL PASIFIK BATAM DALAM BAYANG-BAYANG DUGAAN JUDI SERTA EKSTASI, APH BATU AMPAR MASIH PADAM LAMPU ?

Kompassidik.comBatam Nama Hotel Pasifik Batam kembali diseret ke pusaran dugaan praktik hiburan malam menyimpang. Di balik bangunan megah, dentuman musik, room karaoke VIP, dan lalu lalang tamu hingga dini hari, beredar informasi yang tak lagi bisa dianggap sekadar bisik-bisik. Tempat hiburan malam tersebut diduga telah lama menjadi ruang aman bagi praktik perjudian terselubung serta dugaan peredaran narkotika jenis ekstasi.

Sorotan tajam tidak hanya mengarah pada operasional diskotik dan KTV yang berada di bawah pengawasan manajemen, tetapi juga menyerempet nama Gordon Silalahi yang oleh sejumlah sumber disebut-sebut sebagai figur sentral yang mengetahui denyut aktivitas di lingkungan Hotel Pasifik.

Pasalnya, publik sulit percaya aktivitas sebesar itu diduga dapat berlangsung tanpa sepengetahuan orang dalam.

DUA BISNIS HARAM DALAM SATU ATAP HIBURAN

Dari hasil penelusuran dan informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber lapangan, dugaan penyimpangan di Hotel Pasifik bukan hanya satu.

Di satu sisi, pil ekstasi diduga beredar cukup mudah di kalangan tamu hiburan malam.

Barang haram itu disebut dapat diakses melalui jalur orang-orang tertentu yang memahami kebutuhan pengunjung tetap.

Tidak ada transaksi yang terlihat mencolok.

Semua diduga berlangsung halus, cepat, dan nyaris menyerupai layanan tambahan.

Di sisi lain, perjudian juga diduga hidup melalui beberapa pola permainan, mulai dari mesin jackpot hingga bola pingpong tebak angka yang dimainkan di room VIP.

Pengunjung disebut-sebut membeli kupon, memilih angka, menunggu hasil undian di monitor LCD, lalu menerima kartu bernilai tertentu saat menang.

Meski tidak ada uang tunai yang disodorkan secara terang-terangan, mekanisme tersebut diduga tetap mengandung tiga unsur utama perjudian: setoran, spekulasi, dan keuntungan.

Dengan kata lain, hiburan malam di tempat ini diduga bukan hanya menjual musik dan minuman, tetapi juga terindikasi menyediakan sensasi narkotika dan adrenalin taruhan.

GORDON SILALAHI DI TITIK TANYA PUBLIK

Di sinilah nama Gordon Silalahi mulai ikut menjadi sorotan.

Sebagai sosok yang disebut memahami operasional dan lalu lintas aktivitas Hotel Pasifik, Gordon tentu sulit dilepaskan dari pertanyaan mendasar: apakah mungkin dugaan perjudian dan dugaan peredaran ekstasi yang disebut telah berlangsung lama itu tidak pernah sampai ke telinga manajemen ?

Jika tidak tahu, maka hal itu dapat dibaca sebagai kelalaian pengawasan.

Namun jika tahu tetapi dibiarkan, persoalannya tentu menjadi jauh lebih serius.

Sebab publik menilai tidak mungkin mesin jackpot diduga berdetak, room VIP diduga ramai taruhan, dan pil ekstasi diduga beredar dari malam ke malam tanpa adanya sistem yang membuat semuanya tetap nyaman.

Dalam bisnis hiburan malam, sesuatu yang berulang bukan lagi insiden.

Itu pola. Dan pola selalu diduga memiliki penanggung jawab.

APH BATU AMPAR BENAR-BENAR TIDAK MENDENGAR ATAU SUDAH TERLALU BIASA ?

Hotel Pasifik berdiri terang di Jalan
Duyung, Sei Jodoh.

Bukan bunker bawah tanah.

Setiap malam kendaraan keluar masuk.

Pengunjung ramai.

Lampu menyala.

Musik menggema.

Dengan kondisi sesibuk itu, dugaan adanya ekstasi dan perjudian tentu bukan aktivitas sunyi.

Lalu pertanyaannya, mengapa wilayah hukum Batu Ampar seolah tenang-tenang saja ?

Kapolri Listyo Sigit Prabowo dalam berbagai arahan resmi berulang kali menegaskan bahwa seluruh jajaran Polri wajib menindak tegas perjudian konvensional, judi online, dan peredaran narkoba tanpa kompromi.

Bahkan penegakan itu ditegaskan harus menyasar seluruh bentuk pelindung kejahatan.

Artinya secara institusi, perintahnya sudah sangat jelas.

Namun ketika sebuah titik hiburan malam disebut-sebut diduga lama menjadi arena jackpot, bola pingpong taruhan, dan transaksi ekstasi, sementara penindakan tak kunjung terlihat, maka publik berhak bertanya: apakah perintah itu macet di tengah jalan ?

Atau justru ada tempat-tempat tertentu yang dianggap terlalu nyaman untuk disentuh ?

JIKA DUGAAN INI BENAR, MAKA YANG RUSAK BUKAN CUMA MORAL HIBURAN MALAM

Perjudian melahirkan kecanduan uang instan.

Narkoba merusak kesadaran dan masa depan.

Ketika dua penyakit sosial itu diduga bertemu dalam satu lokasi hiburan yang ramai dikunjungi pria dewasa hingga anak muda, maka dampaknya bukan sekadar urusan pelanggaran izin usaha.

Ini menyangkut rusaknya ekosistem sosial Kota Batam.

Tempat hiburan diduga berubah fungsi menjadi terminal uang gelap.
Dan yang paling berbahaya, semua itu diduga berjalan dengan rasa aman.

Rasa aman inilah yang membuat publik curiga: ada sesuatu yang terlalu longgar, atau terlalu dilonggarkan.

PUBLIK MENUNGGU GORDON MENJAWAB, APH MENUNJUKKAN NYALI

Kini bola panas ada di dua tangan:
tangan manajemen Hotel Pasifik, khususnya Gordon Silalahi sebagai figur yang patut dimintai penjelasan;
dan tangan aparat wilayah Batu Ampar yang selama ini dipertanyakan ketegasannya.

Apakah dugaan ini akan dibantah dengan data dan tindakan ?

Atau justru dibiarkan menguap seperti isu-isu lama yang akhirnya hilang ditelan dentuman musik malam ?

Sebab satu hal pasti, semakin lama tidak ada klarifikasi dan penertiban, semakin kuat keyakinan publik bahwa Hotel Pasifik diduga bukan sekadar tempat hiburan.

Melainkan diduga telah menjadi simpul nyaman bagi perputaran judi dan ekstasi.

Tim investigasi akan melayangkan konfirmasi resmi kepada Gordon Silalahi, manajemen Hotel Pasifik, Kapolsek Batu Ampar, serta Polresta Barelang.

\ Get the latest news /

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Back to top