Kompassidik.com – Batam Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, memilih bungkam setelah video pernyataannya terkait warga pengambil pasir di parit viral dan memicu gelombang kecaman publik.
Hingga Selasa malam (28/4/2026), yang bersangkutan belum memberikan tanggapan resmi meskipun permintaan konfirmasi dari media telah disampaikan secara langsung melalui pesan WhatsApp.
Dalam pesan konfirmasi tersebut, redaksi meminta penjelasan terkait sejumlah poin krusial, mulai dari apakah ucapan tersebut merupakan sikap resmi Pemerintah Kota Batam, tudingan publik soal nada diskriminatif terhadap warga pendatang, hingga sorotan mengenai ketimpangan penegakan hukum yang dinilai cepat menindak rakyat kecil namun belum menyentuh aktivitas tambang ilegal skala besar.
Namun sampai berita ini disusun, tidak ada jawaban, klarifikasi, maupun penjelasan yang diberikan.
Sikap diam ini justru menambah bara polemik.
Sebab di tengah derasnya kritik masyarakat, publik menilai seorang pejabat semestinya tampil memberikan penjelasan, bukan memilih menghilang ketika ucapannya menuai kegaduhan.

Dikecam Karena Dinilai Asal Menghakimi
Polemik bermula dari video yang beredar luas di media sosial saat Li Claudia Chandra menyinggung warga pengambil pasir parit dan melontarkan narasi agar warga non-KTP Batam yang datang hanya untuk mencuri dan tidak bekerja sebaiknya dipulangkan.
Ucapan itu sontak memantik reaksi keras.
Banyak kalangan menilai pernyataan tersebut sarat stigma, melukai masyarakat kecil, dan berpotensi memecah harmoni Batam sebagai kota migrasi.
Alih-alih menunjukkan empati, Li Claudia dinilai justru tampil dengan wajah kekuasaan yang gemar memvonis sebelum memahami akar persoalan.
Tokoh masyarakat Indonesia Timur Batam, Moody Arnold Timisela, bahkan melontarkan kritik pedas dan menyebut ucapan tersebut sebagai bentuk komunikasi pejabat yang gagal total.
“Kalau pejabat bicara sembarangan lalu rakyat yang menanggung luka sosialnya, itu berbahaya.
Yang dibutuhkan masyarakat itu solusi, bukan kata-kata yang merendahkan,” tegas Moody.
Menurut Moody, Li Claudia terlalu mudah melabeli masyarakat kecil sebagai pelanggar tanpa pernah menjelaskan langkah pemerintah dalam membuka lapangan kerja, memberi edukasi, maupun menyiapkan solusi ekonomi.
Bungkam Dinilai Memperburuk Citra Kepemimpinan Pengamat menilai, dalam situasi seperti ini, memilih diam bukanlah langkah aman.
Justru sebaliknya, kebisuan pejabat akan dibaca publik sebagai bentuk ketidakmampuan mempertanggungjawabkan ucapan sendiri.
Ketika pernyataan seorang Wakil Wali Kota sudah menimbulkan kemarahan sosial, klarifikasi menjadi kebutuhan mendesak agar tidak terjadi tafsir liar di tengah masyarakat.
Namun yang terjadi, hingga malam hari, Li Claudia belum juga memberikan penjelasan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan baru:
apakah yang bersangkutan memang tidak memiliki penjelasan, atau sengaja menghindari sorotan ?
Tajam ke Bawah, Diam pada Persoalan Besar ?
Selain menuai kritik atas narasi pendatang, Li Claudia juga disorot karena polemik ini membuka kembali pertanyaan lama soal keberanian pemerintah terhadap pemain tambang ilegal besar.
Di satu sisi, warga kecil pengambil pasir parit dipertontonkan sebagai objek penertiban.
Di sisi lain, praktik tambang material skala besar yang kerap dikeluhkan masyarakat masih menjadi tanda tanya besar.
Kontras inilah yang membuat publik menilai ketegasan pemerintah tampak tidak seimbang.
“Rakyat kecil mudah ditunjuk. Tapi para pemain besar masih samar. Ini yang membuat masyarakat curiga ada keberanian yang setengah-setengah,” kata Moody lagi.
Publik Menunggu, Li Claudia Tetap Membisu Sampai saat ini, masyarakat masih menunggu apakah Li Claudia Chandra akan memberikan klarifikasi, meminta maaf, atau tetap bertahan dengan pernyataannya.
Namun satu hal sudah terlanjur terjadi:
kepercayaan publik mulai tergerus bukan hanya oleh ucapan yang viral, tetapi juga oleh sikap bungkam setelah badai kritik datang.
Karena bagi masyarakat, pemimpin yang baik bukan hanya berani bicara saat kamera menyala-tetapi juga berani menjawab ketika ucapannya dipersoalkan.
Hingga berita ini diterbitkan, Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra belum memberikan respons atas konfirmasi resmi yang telah disampaikan redaksi.












