GORDON SILALAHI DIDUGA LAKUKAN INTIMIDASI TERHADAP WARTAWAN, SINGGUNG “MAPPING HP” DAN TEKANAN PASCA PEMBERITAAN

Kompassidik.comBatam Kebebasan pers kembali mendapat sorotan setelah muncul dugaan upaya intimidasi terhadap wartawan usai terbitnya pemberitaan terkait dugaan aktivitas perjudian dan narkoba di kawasan hiburan malam Diskotik Pasifik Batam.

Seorang pria bernama Gordon Silalahi disebut melontarkan sejumlah pernyataan bernada tekanan melalui komunikasi digital yang diterima wartawan pada Selasa malam (6/5/2026).

Dalam percakapan tersebut, Gordon menyampaikan kalimat yang dinilai mengarah pada upaya menekan kerja jurnalistik. Beberapa pernyataan yang dipersoalkan antara lain menyebut soal “mapping HP”, “kawan-kawan di Pinang”, hingga ajakan untuk “memancing turun ke Batam”.

“Kita polisikan saja ini, deliknya sudah masuk,” tulisnya dalam salah satu pesan.

Tak lama berselang, ia juga mengirim pesan lain yang berbunyi, “Suruh dia kabarin, ku tunggu kali. Pancing dia turun ke Batam atau saya ke Pinang.”

Pernyataan berikutnya bahkan menyinggung dugaan pemetaan komunikasi pribadi. “Gak perlu lagi, karena kita sudah mapping HP-nya. Chat-chat modus pemerasan sudah kita pegang,” tulis pesan tersebut.

Sejumlah kalangan menilai pernyataan demikian berpotensi menciptakan tekanan psikologis terhadap kerja wartawan, terlebih ketika disampaikan setelah muncul pemberitaan yang menyangkut kepentingan pihak tertentu.

Dalam prinsip kebebasan pers, keberatan terhadap isi pemberitaan sejatinya dapat ditempuh melalui mekanisme hak jawab, hak koreksi, maupun pengaduan ke Dewan Pers sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat penjelasan rinci dari Gordon mengenai dasar tudingan “modus pemerasan” yang ia lontarkan.

Redaksi juga masih membuka ruang hak jawab dan klarifikasi resmi dari pihak bersangkutan demi menjaga keberimbangan informasi.

Kasus ini memunculkan perhatian publik karena dinilai menyentuh isu lebih luas mengenai relasi antara kekuasaan, tekanan informal, dan independensi kerja jurnalistik di daerah.

\ Get the latest news /

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top