Kompassidik.com | Jayapura – Komando Daerah Militer (Kodam) XVII/Cenderawasih menyiagakan sebanyak 2.190 personel gabungan untuk mengantisipasi dan menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh wilayah Papua. Langkah preventif ini diambil menyusul terdeteksinya sejumlah titik panas (hotspot) di beberapa kabupaten di Bumi Cenderawasih.
Kesiapsiagaan tersebut ditandai dengan pelaksanaan Apel Gelar Pasukan Penanganan Karhutla Kodam XVII/Cenderawasih Tahun 2026 yang berlangsung di Makodam XVII/Cenderawasih, Rabu (26/8/2026).
Apel dipimpin langsung oleh Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang dan dihadiri sejumlah pejabat utama Kodam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Provinsi Papua, Basarnas, serta instansi terkait lainnya.
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang menyatakan, personel yang disiagakan berasal dari berbagai satuan, mulai dari Kodim, Korem, hingga 13 Batalyon Teritorial Pembangunan (TP) yang tersebar di tiga provinsi, yakni Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah.
“Kami siapkan personel untuk bisa dikerahkan mengantisipasi apabila terjadi kebakaran. Kurang lebih 2.190 orang ini tersebar di kabupaten yang menjadi tanggung jawab Kodam XVII/Cenderawasih,” ujar Pangdam kepada awak media usai memimpin apel gelar pasukan.
Menurut Pangdam, penanganan karhutla mengedepankan sinergitas lintas sektor. Selain unsur TNI, Kodam XVII/Cenderawasih juga membangun koordinasi dengan Polri, BPBD, BNPB, Basarnas, Dinas Kehutanan, pemadam kebakaran, serta organisasi komunikasi masyarakat seperti Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) dan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI).
“Semua unsur yang ada kita sinergikan untuk bersama-sama melakukan upaya penanganan dan pencegahan,” tegasnya.
Berdasarkan hasil pemantauan selama sepekan terakhir, Pangdam mengungkapkan terdapat enam titik panas yang cukup menonjol di wilayah Papua. Empat titik terdeteksi di Kabupaten Nabire, satu titik di Kabupaten Puncak, dan satu titik di Kabupaten Biak Numfor.
“Enam titik ini yang cukup besar, yakni empat titik di Kabupaten Nabire, kemudian satu titik di Puncak dan satu di Biak Numfor. Sampai saat ini sudah bisa dilakukan pemadaman,” katanya.
Pangdam menjelaskan bahwa berdasarkan pemantauan melalui aplikasi Sipongi milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta data satelit BMKG, kondisi titik panas di Papua masih tergolong terkendali jika dibandingkan dengan sejumlah provinsi lain di Indonesia.
“Di Sipongi masih berwarna kuning dan hijau, jumlahnya juga sangat sedikit dibandingkan provinsi-provinsi lain. Namun kita tidak boleh lengah dan tetap siaga penuh,” ujarnya.
Pemantauan berkala terus dilakukan melalui berbagai sumber, termasuk aplikasi Sipongi, data satelit BMKG, laporan masyarakat, serta unggahan di media sosial.
Meskipun demikian, Pangdam mengakui bahwa hingga saat ini Kodam XVII/Cenderawasih belum memiliki dukungan pemadaman melalui udara maupun teknologi modifikasi cuaca (TMC). Dukungan tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan.
“Sampai minggu ini, di aplikasi Sipongi maupun BMKG belum ada yang terdeteksi cukup besar,” kata Pangdam.
Untuk mendukung kesiapsiagaan, Kodam XVII/Cenderawasih telah menginventarisasi sejumlah armada dan peralatan penanganan karhutla. Sedikitnya 21 unit mobil pemadam kebakaran, mobil tangki air, truk, ambulans, mesin pompa air (alkon), serta perlengkapan komunikasi dan kesehatan telah disiagakan.
“Seluruh fasilitas ini akan dikerahkan sesuai kebutuhan di lapangan untuk memastikan penanganan karhutla dapat berjalan optimal,” tegas Pangdam.
Di sisi lain, Pangdam XVII/Cenderawasih mengimbau kepada seluruh masyarakat Papua agar bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Ia juga menekankan pentingnya pengawasan bagi masyarakat yang melakukan pembakaran sampah agar api tidak merembet dan menyebabkan kebakaran yang lebih luas.
“Apabila ada yang melakukan pembakaran sampah, perlu dilakukan pengawasan. Kebakaran lahan di Nabire yang terjadi diawali dengan pembakaran lahan, kemudian meluas ke daerah lainnya karena faktor cuaca,” ungkap Pangdam mengingatkan.
Pangdam berharap dengan kesiapsiagaan yang telah dilakukan, potensi kebakaran hutan dan lahan di Papua dapat diminimalisir sehingga tidak menimbulkan dampak luas terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat.
“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Mari kita jaga Papua dengan tidak melakukan pembakaran lahan yang dapat merugikan kita semua,” pungkasnya.












